Dengan Sistem Barcode Siswa Tidak Mengetahui Paket Soal UN Yang Dikerjakan

pelaksanaan UNIni menurut saya adalah suatu terobosan dalam pelaksanaan Ujian Nasional yang bagus, yang akan meminimalisir kecurangan dalam Ujian Nasional. Pasalnya pada tahun ini semakin ditingkatkan dengan sistem barcode. Hal ini dilakukan untuk menghindari potensi kecurangan sekaligus memperkuat kelemahan pelaksanaan di sekolah.Pelaksanaan Ujian Nasional (UN) tahun ini yang menggunakan sistem barcode membuat peserta perlu mengikuti tahapan kerja sebelum mulai mengerjakan soal. Peserta yang tidak memastikan bahwa ia menjawab pada LJUN yang benar, akan mendapat nilai yang jelek, karena saat dipindai, komputer akan keliru membaca.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh siswa pada saat pelaksanaan Ujian Nasional sehingga tidak merugikan diri sendiri, antara lain :

  1. Peserta harus memastikan bahwa antara naskah soal dan LJUN masih bersatu. Kalau sudah dalam keadaan terpisah, peserta wajib melaporkannya kepada pengawas dan meminta ganti. Jangan sampai peserta ambil risiko, tetap mengambil naskah soal dan LJUN yang sudah terpisah itu. Harus diganti dengan yang masih dalam kondisi bersatu.
  2. Pastikan pula bahwa naskah soal dan LJUN tidak dalam kondisi rusak. Peserta perlu memperhatikan satu per satu lembar pada naskah soal dan memastikan bahwa tidak ada satupun soal yang rusak atau tidak terbaca. Mengapa tahapan ini penting? Karena jika peserta menemukan soal yang rusak di tengah-tengah proses pengerjaan soal, peserta harus meminta naskah soal dan LJUN yang baru. Itu artinya, peserta harus menjawab dari nomor satu lagi.
  3. Begitu peserta telah memastikan bahwa naskah soal dan LJUN dalam keadaan masih bersatu dan tidak rusak, ia wajib menuliskan identitas di naskah soal dan LJUN. Setelah diisi, peserta diperbolehkan melepaskan LJUN dari naskah soal. Langkah ini penting untuk mengantisipasi tertukarnya naskah soal dengan LJUN.

Berikut ini dapat dilihat contoh LJUN 2013 dan dapat dilihat paket soal tidak terlihat di dalamnya namun menggunakan sistem barcode.

LJUN

Menurut Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kemdikbud Khairil Anwar Notodiputro menyampaikan, mulai tahun ini naskah soal UN dengan lembar jawaban tidak terpisah. Jika pada tahun lalu peserta didik dapat menggunakan lembar jawaban temannya karena terpisah, mulai tahun ini naskah soal dengan lembar jawaban UN (LJUN) merupakan satu kesatuan. “Naskah soal dan lembar jawaban UN menggunakan sistem barcode,” katanya memberikan keterangan pers di sela-sela kegiatan Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayan (RNPK) 2013 di Pusat Pengembangan Tenaga Kependidikan, Depok, Selasa (12/2).

Khairil menjelaskan, dengan menggunakan barcode, maka peserta ujian tidak dapat saling tukar kode soal seperti tahun lalu. Dia mengungkapkan, kalau keduanya dipisah maka peserta didik akan menjawab soal secara salah, yang tidak cocok dengan lembar jawaban UN-nya. “Bayangkan kalau keliru, LJUN A dengan soalnya B, pasti jelek sekali nilai si anak,” katanya.

Oleh karena itu, dalam sosialisasi pihaknya menekankan agar jangan sampai lembar jawaban ujian tertukar. Jika lembar jawaban rusak agar minta diganti berikut soalnya. “Jangan hanya meminta lembar jawabannya saja,” katanya. Demikian sebaliknya, kalau naskah soal rusak jangan hanya minta diganti naskah soal, harus meminta ganti naskah soal beserta LJUN.  “Karena merupakan satu paket dan ada kode yang saat dipindai (scan) akan ketahuan lembar LJUN mengacu soal yang mana,” katanya.

Hal senada disampaikan Anggota Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) Teuku Ramli Zakaria. Dengan barcode, kata dia, peserta didik tidak perlu lagi menulis kode soal. “Kode soal tidak akan sama dengan yang lain karena berdasarkan barcode,” katanya.

Khairil menambahkan, persiapan UN sampai saat ini sampai pada merakit soal dan diharapkan cepat selesai. Adapun jumlah soal sebanyak 20 paket untuk setiap ruang ujian berisi 20 peserta. Meski demikian, kata dia, jumlah variasi paket soal tiap provinsi sebanyak 30 buah. “Soal untuk kelas A dan kelas B bisa berbeda karena dibuat 30 paket soal, tetapi dalam ruangan tetap 20 soal,” katanya.

Selain hal tersebut diatas Ujian Nasional  tahun ini mengalami sejumlah perubahan. Mulai dari bertambahnya variasi soal yang sebelumnya hanya berjumlah lima, kini menjadi 20 variasi soal, hingga digunakannya sistem barcode pada naskah soal dan lembar jawaban UN (LJUN). Tidak hanya itu, komposisi bobot soal juga berubah. Bila tahun lalu bobot soal mudah sebanyak 10 persen, sedang 80 persen, dan sulit 10 persen, tahun ini bobot soal sulit ditambah lagi 10 persen. Dengan penambahan jumlah soal yang sulit itu, maka komposisi bobot soal pada UN 2013 ini menjadi 10 persen soal mudah, 70 persen sedang, dan 20 persen sulit.

Sumber : kemendikbud.go.id

Artikel Lainnya :

Perihal ibnufajar75
Saya seorang Guru Matematika di SMA Negeri 1 Pagar Alam - Sumatera Selatan. Sebagai Media Informasi saya mempersilakan untuk copas artikel yang ada di blog ini dengan mencantumkan alamat https://ibnufajar75.wordpress.com

106 Responses to Dengan Sistem Barcode Siswa Tidak Mengetahui Paket Soal UN Yang Dikerjakan

  1. darma suryati mengatakan:

    trims atas infonya….sangat bermanfaat….

  2. Ping-balik: Dengan Sistem Barcode Siswa Tidak Mengetahui Paket Soal UN Yang Dikerjakan • Guraru

  3. Mala mengatakan:

    Knpa semakin di persulit UNnya?
    Jika aturannya seperti itu, menurut saya bobot soal yg mudah semakin diperbanyak.

    • Fatur Thok mengatakan:

      Bukan dipersulit, tapi untuk menghindari kecurangan yang selalu terjadi pada tahun-tahun lalu

      • ibnufajar75 mengatakan:

        Saya sangat sependapat dengan Pak Fatur….
        Dengan cara seperti inilah Ujian Nasional dapat memperbaiki sistem pendidikan nasional kita yang selama ini rusak karena pelaksanaan UN yang “tidak jujur” selama ini…

        Salam

        • putpuut mengatakan:

          aduhduh apa om ibnu dulu UN nya jujur 100% ?

          • anarchi mengatakan:

            saya setuju sama putpuut..
            apakah om ibnu lu*s 100%,
            tpi wjar enak orng yg udah lu*s..
            tinggal setuju* aja,
            tpi yg blum mlah diperketat..

            • ibnufajar75 mengatakan:

              Jaman saya dulu bukan UN tapi EBTANAS. Saya Lulus SMA tahun pelajaran 1992/1993. Silakan anda tanya kepada mereka yang ujian pada jaman itu apakah mereka bisa untuk berbuat curang ? Kalo anda tanya saya apakah saya lulus 100 % saya pastikan waktu itu tidak mungkin ada bantuan dari siapapun dan demi Allah saya lulus dengan kemampuan saya sendiri. Namun memang saat itu standar kelulusan siswa yang membuat adalah sekolah masing2 tidak secara nasional disamakan. Jadi ada sekolah yang membuat standar yang tinggi ada juga sekolah yang membuat standar rendah tergantung dari kemampuan siswanya….

            • Anonim mengatakan:

              sama aja

            • kalibaru09 mengatakan:

              Iy yg udah lulus mah tinggal setuju2 ajha kg mikir yg laen,
              harusnya mikir donk,, kg kasian tuh kalau ada yg kg lulus ?
              kasian tau karena menambah jumlah pengangguran ajha di indonesia karena tidak ada perusahaan yang mau nerima orang yg kg lulus ,,
              mikir tuh !!!!!!

        • Wahyu Arthaluhur mengatakan:

          bukan gini caranya memperbaiki sistem pendidikan nasional kita,kalau semua makin dipersulit pasti orang” bakal mencari alternatifnya.Intinya,semakin ketat suatu sistem,semakin canggih juga cara membobolnya

        • aan mengatakan:

          kalo UN memang banyak yang “tidak jujur”
          lalu kenapa masih di pertahankan???
          kenapa ga ganti alternatif lain?
          apa pemerintah males mikir buat cari alternatif?
          ko malah menambah beban mental peserta didik?

          ujian tuh harusnya jangan jadikan sebagai patokan
          ingat ada PROSES di balik suatu pencapaian,
          dan harusnya proseslah yang dinilai oleh guru masing-masing,
          dan disinilah dituntut agar pemerintah menciptakan guru yang memang paham tentang pendidikan dan ingin mengajar demi nusa dan bangsa, bukan guru yang mengajar atas dasar uang.

          • Anonim mengatakan:

            Iyaa bayangkan saja siswa yang sekolah 3 tahun hanya dibuat gila dgn waktu 4 hari dikarenakan prturan UN yang makin rumit. Saya rasa ini bukan cara yang membuat org jujur malah akan menjadi beban siswa.

  4. Anonim mengatakan:

    bagaimana cara mengatasi jika LJUN rusak di tengah2 mengerjakan soal ? misal sudah mengerjakan 20 soal apakah harus meminta soal baru yang berbeda tipe dan harus mengerjakan ulang soal yang berbeda tersebut atau diganti dengan soal yang tipenya sama seperti awal mengerjakan ?

    • ibnufajar75 mengatakan:

      Pertanyaan yang bagus…
      Jika terjadi hal demikian, maka soal dan LJUNnya tetap diganti dengan soal cadangan yang tersedia entah itu sama atau tidak tipe soalnya.

      • Fatur Thok mengatakan:

        Masalahnya Kalau LJK diganti maka Soal harus diganti juga (karena berpasangan). Siswa akan mengerjakan dari nol dan ini kan akan merugikan siswa. Informasi yang saya terima ketika LJK rusak. Biarkan aja. Nanti bila tidak bisa dipindai (discan) itu tanggung jawab korektor di perguruan tinggi untuk menyalin di LJK yang baru

        • Anonim mengatakan:

          Yang diganti hanya halaman atau nomor soal yang rusak aja, tapi ingat harus tetap satu paket antara soal dan LJUN nya. sehingga nanti yang dikumpul oleh peserta bisa beberapa LJUN sesuai dengan soal/nomor yang rusak. begitu brorr…………. gak usah bingunglah.

  5. FCB mengatakan:

    Didalam UUD Pendidikan Tidak ada yg namanya UN..
    Ini sangat mempersulit siswa..
    Coba saja anda yg lahir pda era ini, dn bgaimna mrasakan nya seperti ini

    • ibnufajar75 mengatakan:

      Kalau di dalam UUD tentu tidak termuat apa itu UN, karena UUD hanya memuat garis besarnya saja, namun turunan UUD dari undang-undang hingga permen saat ini tentu ada yang memuat tentang UN. Saya memang terlahir tidak di era sekarang tp saya dulu ada yang namanya EBTANAS dan sistemnya dapat anda tanyakan pada orang tua anda…
      Kuncinya tetap semangat dan anda pasti bisa….

      Salam

  6. angga yudistira mengatakan:

    menghindari kecurangan??
    ya pemerintah tidak percaya dengan kemampuan siswanya
    UN SD di tiadakan UN SMA di bikin rumit kan ga adil ah
    mending buat tim untuk tes lisan aja
    indonesia oh indonesia

    • odoy mengatakan:

      yang curang bukan anaknya mas, anak terlahir dengan kejujurannya itu janji Tuhan, tapi orang dewasa yang membuat anak menjadi tidak jujur, muali dari orang tua, tetangga, guru, kepala sekolah, kepala dinas dan kepala-kepala lainnya

    • anarchi mengatakan:

      pertanyaan yg sulit nggak bsa djwab..oleh om****
      apakah dia lulus 100%???
      ngayal mbohong asekade….
      wkwkwkwk

  7. kalo soal sama lembar jawabanya dituker ke temen dalam satu paket kan sama aja ?

  8. Alianyah mengatakan:

    Mohon izin untuk di re-post di website sekolah kami mas.
    http://sman1ciasem.com/sistem-barcode-un-2013-cegah-siswa-mengetahui-paket-soal.html
    sumber di lampirkan. Trims.

  9. Anonim mengatakan:

    jd dlm setiap ruangan berbeda d0nk soalx…,?

    • Anonim mengatakan:

      bukan hanya setiap ruang tetapi setiap peserta, soal disiapkan 30 paket tetapi yang digunakan hanya 20 paket sehingga ada kemungkinan setiap ruang paket soal bisa berbeda

  10. aan mengatakan:

    bukan kah kalo seperti ini anak ditekan agar semakin cerdas dalam berbuat curang??
    anak di tekan oleh orang tua dan lingkungan karna jika tidak lulus dianggap “malu-maluin”
    sekarang pikirkan apakah tenaga pengajar sudah sesuai standar??
    harusnya tenaga pengajar dulu di perbaiki baru murid mengikuti.
    lah gurunya aja masih pada amburadul gemana anak didiknya mau bener?
    dan INGAT kecerdasan setiap anak itu berbeda
    harusnya 1 anak 1 kurikulum (menyesuaikan dengan karakter anak)
    bukan 1 kurikulum untuk semua anak.
    banyaknya tekanan terhadap anak pantas saja anak menjadi depresi dalam menghadapi ujian,
    ingat bung anak itu mempunyai karakter, tidak sama semuanya,
    JANGAN DI PUKUL RATA.

    • RMB mengatakan:

      saya setuju sekali

    • kepala sekolah mengatakan:

      gw rasa dari dulu hingga sekarang(dan sampai kapanpun) tujuan utama dari ujian nasional itu sebagai tolak ukur sejauh mana peserta didik memahami pelajaran2 yang mrk pelajari selama di sekolah, bukan untuk kecurangan.
      kenapa pakai un?? karena un lebih objektif dari nilai2 lain spt nilai rapot. nilai rapot kan dinilai oleh guru, kalau semua guru jujur sih gak masalah pakai nilai rapot, cuma masalahnya kita semua sudah tau kan kalau masih banyak guru2 dan sekolah2 yg gak objektif. ada yg krn anak pejabat/kolega dari si guru, si anak diberi nilai besar, ada juga yang sekolahnya sengaja mengatrol nilai siswanya agar peminat di sekolah itu tidak turun(itu semua udah umum, semua orang pasti tau). makanya hadirlah ujian nasional sebagai ujian terakhir(final exam), jadi kalau si anak mendapat nilai bagus, ya berarti dia sudah mengusai pelajaran tsb, kalau nilainya jelek ya berarti belum menguasai.

      gw juga gak setuju kalau un terlalu ditinggi-tinggikan(overrated) apalagi anak dipaksa harus punya nilai gede. buat gw, un seharusnya hanya sebagai pengukur aja dan gak dipakai dalam kelulusan. jadi menurut gw ini tugas pemerintah, orang tua, dan sekolah yg harus merubah pola pikir anak bahwa un bukanlah segalanya tapi ilmu dan pemahaman itulah yg harus diutamakan.

      pemerintah juga HARUS meningkatkan kualitas pendidikan. tapi kualias yg belum maksimal tidak bisa dijadikan alasan untuk meniadakan un, karena secara tdk langsung un itu sendiri bisa dipakai sebagai indikator dari kemajuan/perkembangan pendidikan kita.

      gw gak setuju sama pendapat km ttg 1 anak 1 kurikulum. kalau begitu sama saja dengan guru tidak mengajar murid, tapi murid itu sendiri yg belajar. sesuai dengan karakternya berarti sesuai dengan kemauan dan kesukaannya, berarti sama saja seperti anak yg hanya suka olahraga(dan malas belajar matematika/agama) hanya belajar olahraga dan tidak belajar matematika/agama. buat gw itu salah dan kalau seperti itu buat apa ada sekolah?
      terakhir, menurut gw un itu wajib(dan rasanya dinegara2 lain juga ada yg namanya un), malah menurut gw kalau pemerintah menghapus un, sama saja dengan pemerintah tidak terlalu peduli dengan pendidikan anak2 dinegrinya. hanya saja, selain memperbaiki un pemerintah juga harus terus meningkatkan pendidikan dinegara kita tercinta ini dan merubah pola pikir kalau un bukan segala2nya dan untuk merubah pola pikir ini bukan cm tugas pemerintah tapi tugas kita semua.

      • aan mengatakan:

        okey kalo begitu,mungkin kesalahan ada pada penekanan dari orang tua dan lingkungan supaya murid HARUS LULUS, dan inilah yg menjadi beban terberat bagi para peserta didik,
        karna beban itulah peserta didik rela melakukan kecurangan,
        dan lalu apakah tenaga pengajar kita sudah maksimal agar peserta didik dapat lulus?
        kalo udah maksimal kenapa “bimbel” itu menjamur? (pikirkan)
        nah disinilah saya menekan kan agar tenaga pengajar yg ditingkatkan kualitasnya dulu
        jadi ga akan ada kecurangan dari tenaga pengajar, baik ada UN maupun tiada UN

        lalu UN sebagai indikator kemajuan pendidikan?
        saya sangat amat tidak sependapat,
        apakah pendidikan berdasarkan nilai/angka dapat memajukan negara ini lebih baik?
        yang ada malah persaingan yang ditanamkan pada anak kita,
        “apapun yang terjadi nilai saya harus bagus, agar orang tua saya bahagia”
        (mungkin itu yang ada dipikiran anak2 kita)
        tujuan yg mulia namun akan ada banyak yg dikorbankan
        solidaritas teman yang berkurang, iri, dengki, curang, takut, persaingan, dsb.
        coba pikirkan jika sugesti seperti itu tertanam sampai dewasa,
        kita pekerja rela melakukan apapun agar dapat membahagiakan keluarga kita
        rela melakukan apapun agar keluarga kita makan
        apakah itu baik? (pikirkan)

        apa setiap guru memahami pola berfikir setiap anak?
        nah disinilah yg saya maksudkan 1 anak 1 kurikulum,
        BUKAN 1 anak 1 pelajaran saja,
        setiap anak memiliki pola berfikir yang berbeda, nah ini lah yg terpenting
        setiap anak akan diberikan cara pembelajaran yang sesuai dengan cara otaknya berfikir,
        kalo kita liat di sekolah-sekolah,
        ketika guru A menerangkan lalu muridnya tertidur
        maka yang disalahkan siapa? pastilah murid
        guru akan men’judge’ murid tersebut adalah murid pemalas,
        tapi coba pikirkan apakah murid yang salah atau guru yang tidak dapat menarik perhatian murid agar dapat fokus pada penjelasan guru?
        #QUOTE
        “kalau begitu sama saja dengan guru tidak mengajar murid, tapi murid itu sendiri yg belajar. sesuai dengan karakternya berarti sesuai dengan kemauan dan kesukaannya, berarti sama saja seperti anak yg hanya suka olahraga(dan malas belajar matematika/agama) hanya belajar olahraga dan tidak belajar matematika/agama.”
        ya memang itulah salah satu tujuannya, agar murid sendiri yang belajar dan guru tinggal mengarahkan, misal murid tersebut suka olahraga berarti guru tinggal mengarahkan pada pelajaran yang lain, di olahraga ada matematika, saat anda melompat ada hitungannya agar lompatan anda dapat jauh, saat anda mengangkat beban ada hitungan tumpuannya,
        di olahraga itu juga ada agama yaitu sportivitas, kejujuran, mengakui kalah dan menang, tidak boleh iri jika kalah, tidak boleh sombong jika menang,
        JADI pintar-pintar gurunya aja dalam memasukan pelajaran yang lain didalam pelajaran yang murid sukai. itulah pendidikan menurut saya.

        UN wajib ? menurut saya tidak
        yang saya baca di media internet, negara finlandia tidak ada ujian kecuali ujian pada tingkat yang paling akhir bukan tingkat smp atau sma (finlandia adalah negara yang pendidikannya paling baik)
        jika ada ujian itu adalah ujian yang diberikan pada murid untuk mengukur kualitas guru mereka, sejauh mana guru mereka dapat menanamkan pemahaman pelajaran tersebut pada murid.
        kepedulian pemerintah bisa di berikan dengan cara lain
        bukan cara menekan peserta didik dengan adanya UN.
        ingat berhasilnya suatu negara bukan diukur dari seberapa pintar masyarakatnya
        namun seberapa bermoralkah masyarakatnya (menurut saya)

        terakhir saya setuju dengan “UN bukan segala-galanya”🙂

        • Anonim mengatakan:

          Tapi untuk apa 20-30 paket? saya baca di suatu berita, pemerintah menghabiskan dana sebesar Rp.600 Milyar untuk UN itu sendiri, alokasinya untuk pendataan rapor dan peserta, penyusunan soal serta paket, pencetakan, distribusi soal, pelaksanaan dan pengawasan ujian, dan pemindaian.

          Saya rasa alasan pemerintah meningkatkan kualitas pendidikan dengan membuat soal 20-30 paket dengan pendanaan sebesar itu tidak bisa di terima.
          kalau memang iya untuk meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia, kenapa tidak bangun saja lebih banyak sekolah gratis, atau fasilitas pendidikan lainnya? masih banyak teman2 kita yang diluar sana yang ingin sekali bersekolah tapi tidak bisa.

    • Anonim mengatakan:

      saya sangat setuju (y)
      haduh pengen nagis ;(

  11. scarlet_rain01@yahoo.co.id mengatakan:

    saya setuju dengan bang @aan.

  12. putpuut mengatakan:

    belum tentu sistem UN seperti ini akan membuat anak bangsa menjadi lebih pandai . setuju banget dgn bang aan😀

  13. putpuut mengatakan:

    saya disini masih kelas 3 smk dan akan mengikuti UN, jujur om, saya dan teman teman saya merasa tertekan karena adanya sistem ini, bingung juga maksudnya pemerintah itu apa, apa dipikir kami semua akan jadi pinter cerdas makmur sentosa gitu? aduh, malah pikiran kita rasanya mau pecah, yang jadi pertanyaan, kalo tahun2 sekarang aja UN nya udah ribet 20-30 paket , gmn tahun2 berikutnya ?.. LUCU ya om haha, rasanya kami semua disini ingin mogok UN tahun 2013 biar pemerintah aja yang ngerjain soal UN nya (belum tentu juga mereka bisa——

  14. aan mengatakan:

    http://kampus.okezone.com/read/2012/03/05/373/587097/alasan-un-tetap-dilaksanakan
    menurut sumber diatas, manfaat UN
    “kita jadi mengetahui peta pendidikan di Indonesia. Kalau tidak ada UN, kita tidak bisa tahu bagaimana kondisi di tiap daerah”

    lalu jika hanya untuk mengetahui kualitas pendidikan di tiap daerah,
    kenapa UN menjadi salah satu syarat kelulusan?
    kenapa harus berbelit-beli membuat berbagai macam jenis soal?
    jika hanya ingin mengetauhui tingkat kualitas pendidikan tiap daerah, Kemendikbud
    bisa membuat soal sederhana dan umumkan bahwa itu hanya untuk tolak ukur atau riset saja,
    tidak usah menjadikannya syarat kelulusan, PASTI peserta didik akan jujur karena tidak ada tekanan “harus lulus” disana.
    dan pasti tidak akan ada oknum guru yang menyebarkan kunci jawaban karena guru pun akan mengerti bahwa itu adalah riset dari pemerintah pusat.

    lalu kenapa UN yang bertujuan untuk mengetahui kualitas pendidikan malah jadi seperti ini ?
    apakah UN ini “ditunggangi” oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab yang ingin mengambil keuntungan?
    karena pikirkan biaya pengadaan UN, berapa milyar ?

    proses pencerdasan bangsa atau hanya “proyekan” semata?
    monggo, ini hanya opini saya aja loh..

    • kepala sekolah mengatakan:

      kenapa harus sebagai syarat kelulusan? mungkin untuk ‘sedikit menakut nakuti’ dan memotivasi murid supaya lebih giat belajar. tapi gw juga gak setuju kalau un dijadikan syarat kelulusan. tapi yang gw tau un itu bukan syarat utama kelulusan. yang berhak meluluskan murid bukan pemerintah(dari un) tapi dari pihak sekolah(yang gw tau begitu. cmiiw).

      kenapa harus berbelit-beli membuat berbagai macam jenis soal? untuk mengurangi kecurangan. un itu objektif dan dinilai dari pihak luar sekolah. jadi jika un bisa minim kecurangan(apalagi tidak ada), un bisa benar-benar sebagai indikator dari pemahaman siswa terhadap pelajaran2 yg di un kan tsb.

      proses pencerdasan bangsa atau hanya “proyekan” semata? coba kita mikir lebih jernih dan objektif. un itu niatnya baik sekali dan ini adl bukti nyata kalau pemerintah peduli dgn pendidikan kita. memang banyak ada kecurangan2 dan hal2 tidak menyenangkan terkait un tapi gw rasa itu wajar dan memang tidak dapat tidak terjadi(apapun tidak ada yg sempurna, iya kan?)

      gw bukannya membela pemerintah atau tidak mebela adik2 anak sma lho ya.. gw hanya mencoba memberi pendapat dari sisi lain ttg masalah unas ini.

      :cheers:

      • aan mengatakan:

        sedikit menakut-nakuti? mereka itu masih muda, masih labil
        banyak peserta didik yang depresi bahkan bunuh diri
        apakah itu bisa dibilang sedikit menakut-nakuti?
        motivasi yang baik itu adalah motivasi yang berasal dari keinginan sendiri dan ‘enjoy’
        bukan motivasi karena takut,
        ketika anda takut apakah anda dapat tenang dan rileks?
        pikirkan mereka yang bersekolah namun diselingi bekerja untuk membayar biaya sekolah
        apakah mereka bisa tenang dalam belajar? dan di saat itu juga mereka ditekan untuk mencari uang agar dapat ujian, ditekan untuk lulus, ditekan agar belajar giat?
        penekanan-penekanan inilah yang menjadi beban sangat berat di usia seperti mereka,
        apalagi dengan kurang nya pendidikan moral dan pemahaman di sekolah ataupun dirumah

        kecurangan ? itu adalah salah satu indikator kegagalan pendidikan kita
        ketika peserta didik menghalalkan berbagai macam cara untuk lulus.
        ketika dewasa mereka juga mungkin akan menghalalkan berbagai macam cara untuk memenuhi tujuan mereka. (sekarang sudah mulai terjadi)
        salah jika hanya menambah jenis soal agar tidak terjadi kecurangan,
        harusnya diberikan pemahaman tentang kejujuran
        jika peserta didik sudah benar-benar paham dan tertanam pada pikirannya.
        maka di berikan 1 jenis soal pun mereka tidak akan berbuat curang,
        lebih hemat bukan ?

        yah wajarlah kalo ada pro dan kontra
        apapun tidak ada yg sempurna, iya kan?🙂
        saya hanya mengemukakan pendapat saya semenjak saya duduk di bangku smk
        ini pendapatku, apa pendapat teman-teman lainnya ?😀

      • dada mengatakan:

        mohon maaf, ikutan komen. Secara teori, memang un bukan satu2nya syarat kelulusan. Tapi kenyataannya, UN lah yang menentukan kelulusan. Jika UN lulus maka otomatis lulus (walaupun US atau Ujian Sekolah nya ada yang tidak lulus). Mengapa demikian? Karena jika UN lulus (walaupun US ada yang tidak lulus) maka blangko ijazah akan datang sesuai dengan jumlah siswa yang lulus UN. Oleh karena itu, sekolah (dipaksa oleh sistem) harus meluluskan semua siswa yang lulus UN. Jika tidak, maka akan terjadi masalah (dengan siswa dan orangtua, bahkan masyarakat) karena info lulus UN dapat dilihat di internet. Masyarakat umum menganggap bahwa lulus UN berarti lulus 100%. Dengan begitu, apakah UN itu TIDAK menentukan kelulusan? ……..

    • abasz mengatakan:

      setuju sama bang aan…
      apakah setiap taun dengan adanya ujian nasional ada peningkatan didunia pendidikan indonesia

      jangan sampe cuma utk “proyekan semata”>…
      tolong didengar suara pelajar indonesia ,

  15. yeni mengatakan:

    kenapa ya..pemerintah jd mengorbankan anak2 bangsa yg baru akan lepas landas..pada hal negeri ini baru dalam masa “pemerataan pendidikan”…jika mmng guru yg di curigai tdk jujur..jngn kita mengorbankn anak2 kita yg belum begitu siap tuk di lepas…” cb ditinjau kembali sistem pendidikan yg ada ini..mungkinkah sistem nya yg salah….??????

  16. Anonim mengatakan:

    bos.. pembelajaran di ibu kota beda besar dengan di pelosok desa sepaerti saya yang mengandalkan bahan ajar seadanya…dengan permasalahan cara belajar anak di sekolah dan di rumah… capeeee… apalagi saya masih honorer…..

  17. iwan setiawan-jatiwaras mengatakan:

    yang…menghadpi UN…wilujeng….

  18. ani maryani-pokja mengatakan:

    kita galakan….gerakan UN jujur….

  19. RMB mengatakan:

    buat para pemerintah dan para petinggi pendidikan tolong dengarkanlah aspirasi kami sebagai anak bangsa yang sangat tertekan dengan adanya UN ini……….

  20. titin mengatakan:

    mengapa mesti takut pada ujian, jika kita memang sudah menjalankan fungsi sebagai guru maupun murid yang baik, belajar dan mengajar dengan sungguh2 maka apapun bentuk ujiannya… oke-oke saja… ujian tetap penting, proses pun tak kalah penting…

    • manusia biasa mengatakan:

      memang benar tidak ada yang harus di takuti dari ujian, “jika kita memang sudah menjalankan fungsi sebagai guru maupun murid “.

      tapi pada kenyataanya apakah para pengajar sudah memainkan peranya sebagai pengajar ??? menurut saya belum.

      hehe, maaf loh, bukan berarti saya kontra dengan anda, tpi saya cuma ingin berpartisipasi menyampaikan pendapat saja :)). kalo ada kata yg kurang berkenan maaf ya, :))

  21. manusia biasa mengatakan:

    kalo di baca dari atas, sebenarnya semua benar (menurut saya), karena ingin memberikan pendapat yang terpositif dengan adanya sistem baru UN dengan barcode ini. tapi saya lebih sependapat dengan sodara @aan.

    kalo menurut saya, mau ada UN atau tidak, mau sistem di perketat seperti apa pun, mau 1 orang 1 paket soal, atau lain sebagainya, tidak akan berpengaruh terhadap kualitas anak bangsa bila sejak dini mereka hanya diajarkan untuk mencetak NILAI dan berbohong. atau kurangnya pembelajaran tentang pemahaman atau arti kehidupan yang sebenarnya. selain itu faktor pengajar pun sangat berpengaruh loh..

    karena NILAI yang besa besar itu secara tidak langsung akan mnciptakan Image bahwa sebuah sekolah itu bagus. dan sekolah akan malu bila pada saat kelulusan banyak anak yang mendapat nilai kecil dan tidak lulus, karena akan menjatuhkan kualitas sekolah.

    sehingga terjadilah berbagai kecurangan, baik dari pihak pengajar ataupun siswa.

    seharusnya sekolah yang baik itu adalah sekolah yang dapat mengolah sampah menjadi emas, bukan mengolah emas menjadi emas, sehingga bila sebuah sekolah sudah memiliki prinsip tersebut, tidak akan menciptakan keraguan, tekanan maupun beban bagi setiap siswa yang akan mengikuti ujuan, tidak akan ada yang tertekan, karena pengajarnya pun pun berusaha semaksimal mungkin mmberikan PEMAHAMAN dan tidak hanya sekedar mater saja..

    kenyataanya sudahkah setiap sekolah di kita memiliki prisip tersebut??

    seorang guru/sekolah (tidak semua) akan lebih memilih emas untuk di olah menjadi emas lagi dari pada mengolah sampah untuk menjadi emas.

    contoh: guru akan senang atau lebih apresiasi terhadap anak yang pintar dan selalu kedepan kelas atau menjawab pertanyaan, dari pada anak yang suka tidur di kelas, atau bermain main saja. benarkan ?

    sehingga solusi dari saya,perbaiki dulu sistem di setiap lembaga pendidikan, dalam menciptakan generasi muda yang berkualitas, berahlak mulia dan ber skill, selain itu mau UN di barcode atau tidak, bila sistemnya masih amburadul percuma kan . hehe

    maaf kalo sedikit ga nyambung atau ada yang tersinggung, saya cuma ingin menyampaikan pendapat saya aja🙂. semoga bisa diambil positifnya aja. .

    “Bangkit pendidikan di Indonesia”🙂

  22. MakGerOt mengatakan:

    Jalani aja apa yang di atur pemerintah .saya yakin skali banyak siswa di negara tercinta ini pada tidak lulus kalau begini cara aturan main UN.dan banyak siswa masuk tipi, bukan karena mereka itu bahwa “mereka sudah sngat hebat”, melain melainkan mereka sudah jdi mayat. Saya sudah bosan mendengar berita hal yg sperti itu gara” sebuah UN.

  23. Anonim mengatakan:

    yang ingin saya katakan bahwa seorang guru tidak ingin melihat anak2nya tidak lulus, seorang bupati/walikota bahkan gubernur tidak mau daerahnya menjadi sorotan media karena paling jemblok dalam melaksanakan UN…… sudah ketebak kan untuk menghindari semua itu apa yang musti dilakukan????????? siapa yang salah,,, soal UN bocor? siapa yang salah ada anak yang tidak ikut UN karena takut?

    • manusia biasa mengatakan:

      bisa dikatakan juga kecurangan bukan hanya dilakukan oleh pelajar ? begitu kan ? hehe🙂

  24. anggar mengatakan:

    saya sbg kls 3 smk yang akan negikuti UN merasa hanya dibuat untuk sebuah uji coba saja -_-

  25. rahmat sma class 3 mengatakan:

    saya tidak stju dengan pemerintan, UN tahun ini..

  26. rahmat sma class 3 mengatakan:

    saya tidak setuju dengan pemerintah, UN tahun ini.

  27. irwan mengatakan:

    UN YANG GREGRET -_-

  28. LightYagami Kira mengatakan:

    pemerintah itu bodoh ato gmna sih.. ini kan barcodenya ada applikasinya… sadar donk orang zaman sekarang HP aja udah ada scan barcodenya… kalian bisanya cuma meniru dan memakai applikasi yang sudah ada
    gampang sekali di bobol ini tw… kalo kalian merasa udah s2 bisa kalian ciptakan program untuk ujian nasional itu baru patut di banggakan

  29. LightYagami Kira mengatakan:

    kalo saya, jadi mentri pendidikan UN itu punya aplikasi sendiri yang tak ada di negara lain.
    ngaku udah pendidikan tinggi tpi pola pikir kayak anak2
    apa itu lulusan S-1, S-2 di pemerintahan ??

  30. LightYagami Kira mengatakan:

    saya mau tanya apa nilai Un yang menentukan kesusessan seseorang?
    anda tau bill gates?? beliau pendiri microsof.. tpi beliau disekolah nilainya pas”san saja tidak superior
    kapan indonesia bisa menjadi seperti itu ??

  31. suara murid mengatakan:

    UN kok dipersulit,

  32. Ping-balik: Yang Harus Diperhatikan Oleh Peserta dan Pengawas UN 2013 | Pagar Alam dot Com

  33. hamdan mengatakan:

    dengan sistem barcode memang menjauhi aksi kecurangan , tapi tidak perlu ujian dilaksanakan dengan 20 aket kan ?
    apa yang akan terjadi sama anak indonesia ?

  34. mas Hermanto.. mengatakan:

    Kalau bisa dikembalikan seperti EBTANAS dulu, untuk Penentuan KELULUSANNYA DISERAHKAN SEKOLAH, hasil UN berapa saja itulah Kemampuan SISWA…..yang curang bukan anaknya mas, anak terlahir dengan kejujurannya itu janji Tuhan, tapi orang dewasa yang membuat anak menjadi tidak jujur, muali dari orang tua, tetangga, guru, kepala sekolah, kepala dinas dan kepala-kepala lainnya

  35. jamal mengatakan:

    No Comment Here

    • saya merasa UN semakin dipersulit saja. bukan masalah seberapa banyak paketnya tapi dengan prosedur nya , mengapa sudah 20 paket dan harus barcode?,kenapa tidak salah satu saja ? ..misalnya , kalau kita sudah ngerjakan soal banyak tapi ada kesalahan misalnya robek, itu akan sangat merugikan buat peserta

  36. Ping-balik: Yang Harus Diperhatikan Oleh Peserta dan Pengawas UN 2013 | SUAIDINMATH'S BLOG

  37. Anonim mengatakan:

    Klo bisa standart nilai UNnya di turunin agar tidak membuat strees peserta didik..

  38. Agunk mengatakan:

    Toh juga kalo banyak yg gg lulus,,Indonesia sendiri yang malu”
    bahwa indonesia memamerkan kebodohan

  39. agung mengatakan:

    percuma banyak omong disini………….
    ga bakal didengar menteri pendidikan….
    salah tempat kalau komentar banyak disini..
    silahkan langsung ke kementerian …..

  40. Anonim mengatakan:

    Teori tinggi tp praktek rendah, itu prcuma sja..
    Org s1 ato s2 blum tntu dpt krja yg mapan..
    Pengangguran bercecer dmna2..

  41. edyy mengatakan:

    Mengapa UN skrang dipersulit..??
    Bukankah malah menurunkan SDM dan memperbanyak pengangguran,, bila dalam 1 sekolah tidak lulus lebih dari 5 orang otomatis memperbanyak pengangguran dan SDM…..Trimaksih

  42. Anonim mengatakan:

    sebagai seorang siswa menurut saya ini bukan cara yang bijak memperbaiki pendidikan di Indonesia

  43. Anonim mengatakan:

    Eh q merasa keberatan atas perubahan soal paket un eag sanga mendadak

  44. Anonim mengatakan:

    Kami punya keahlian masing”, tidak smua mata pelajaran bisa kami kuasai sepenuhnya .. Coba saja para menteri pendidikan mengerjakan soal soal tersebut, apakah mereka bisa 100% ?? 20 kode bukanlah penanggulangan terbaik, proses dan pembekalanlah yg kami rasa cukup untuk lulus SMA, bukan menuruti pemerintah yang gila harta ! Salam dari siswa siswi XII se indonesia

  45. Ping-balik: payday loans

  46. Airi mengatakan:

    senang juga baca semua koemntar di atas tentang UN ini . setiap pendapat unik dan ada benarnya juga . benar-benar hebat pemikiran orang-orang yang berkomentar di atas.saya aja belum pernah tau ada sudut pandang berbeda namun memang benar adanya. Saya sebenarnya setuju dengan Barcode yg katanya dapat meminimalisir kecurangan. karena korban dari orang yg berbuat curang tuh nggk enak.termasuk saya korban nya. saya juga setuju bahwa ujian jangan dijadikan patokan LULUS atau TIDAK LULUS . tapi jadikan tolak ukur kemampuan siswa tersebut selama menimba ilmu di skolah nya slama 3 tahun.semakin sulit sistem UN nya , bisa saja semakin orang ramai untuk berbuat curang. . Siswa merasa di persulit dengan keadaan ini . Betul memang manusia mempunyai karakter yg berbeda-beda dan pola pikir yang berbeda.tak ada yang benar-benar sama.bahkan orang yang kembar pun mempunyai sifat yang berbeda dengan kembarannya.maka dari itu mungkin pola pikir anda-anda semua berbeda dengan pemerintahan.sangat baik sekali kita menyalurkan pendapat kita di sini. namun kita tak berhak memaksa pemerintah untuk melakukan kehendak kita.pemerintah juga punya batasan nya.bayangkan jika anda-anda berada di posisi pemerintah.mereka manusia biasa seperti kita,punya keluarga dan mengurusi keluarga mereka,memikirkan bagaimana caranya agar ujian berjalan semestinya tanpa kecurangan yg merugikan bagi mereka yg udah belajar dan mengerjakan dengan jujur.belum lagi menerima kritik yg pedas tentang UN ini.Salurkan pendapat dengan baik🙂 jangan ada ingin memaksa agar pendapatnya di terima.sekian dri saya.maaf kalau ada salah kata.

    • ibnufajar75 mengatakan:

      Memang komentar yang masuk terus terang ada beberapa yang saya hapus jika bahasanya sudah kelewat batas…. dan terima kasih kepada semua yang sudah berkenan memberikan komentarnya… Hari ini alhamdulilah saya secara pribadi memberikan apresiasi ke pihak kemendikbud yang sudah memberikan soal UN terbaik selama saya menjadi pendidik, walaupun terjadi penundaan UN di 11 propinsi tapi saya acungkan jempol UN tahun ini khususnya didaerah saya tidak terjadi kecurangan, dan semoga di tempat lain juga demikian. Moga2 dengan sistem seperti ini pendidikan di negeri ini akan menjadi lebih baik….

  47. Anonim mengatakan:

    ujian tahun 2012/2013 sekarang sangat menyesatkan dan bikin semua angkatan sekarang menjadi streeesss…..SIAPA MENTERI pendidikan sekarang yang peduli sama pelajar sangat menyiksa

  48. Adnuzz mengatakan:

    Lebih baik sistem online dengan memakai proxy ditiap jaringan sekolah…..
    Kan bisa diatur situs tertentu yg bisa di buka…

  49. anto mengatakan:

    udah kebayang apa yang akan terjadi setelah pengumuman kelulusan tahun ini. selamat sudah membunuh karakter anak bangsa…

  50. anita mengatakan:

    Sudah puaskah…mereka semua…UN sudah d buat sebanyakk 20 bahkan 30 paket, dan di tambah Bar Code trus sekrang Banyak UN yang tertunda karena kelalaian para menteri… Saya sebagai salah satu siswi SMA merasa ini sudah sangat berlebihan..kenapa tidak Ujian untuk menjadi menteri yang dibuat seperti ini, coba orang2 lulusan S-1,S-2 yang di suruh ngerjain UN kaya gitu apa mereka bisa ngerjain itu semua?? Saya yakin tidak

  51. igar mengatakan:

    semoga semua pelajar di seluruh indonesia LULUS 100%

  52. Anonim mengatakan:

    mentrinya sudah edannnnn

  53. Mifta mengatakan:

    Cara nyontek bocoran untuk UN 2013 sudah ditemukan. Yang jelas ada oknum yang menyebarkan kunci jawaban UN (terserah pak mentri melarang mempercayainya, yang jelas kunci yg beredar itu banyak yg cocok). Ini yang banyak nggak tau.

    Kunci jawaban dijual sekian rupiah dan dijual oleh oknum tertentu entah siapa, itu realitanya. Saya tau karena saya sempat ikut UN pada tahun 2012.

    Buat admin, silakan kirim email ke saya.

  54. Alif Akbar mengatakan:

    LJUN yang di gunakan sekarang pun juga gampang sobek
    yang mana ini akan menyulitkan murid untuk mengerjakan

  55. faradila mengatakan:

    apakah Naskah soalnya boleh di coret2 ? contoh : kita belum yakin untuk mengisi ke LJUN nya lalu berinisiatif untuk mengisinya terlebih dahulu di naskah soal lalu dibaca ulang kembali dan setelah menemukan jawabannya baru di pindai ke LJUN . naah permasalahan saya itu apabila siswa tersebut lupa untuk menghapus coretan di naskah soalnya . apa itu mempengaruhi di penScanannya ?

    MOHON DI JAWAB YA GAN😀

    • ibnufajar75 mengatakan:

      Naskah soal nggak masalah dicoret-coret, karena setelah selesai pengerjaan soal juga dikumpulkan kembali. Informasi yang saya dapat Naskah Soal selanjutnya akan dibakar di dinas kab/kota dan tidak ada hubungannya dengan LJUN

      • faradila mengatakan:

        Oh thanks ya pak🙂 saya siswa kelas 9 pak , maklum sy takut apabila LJUN saya tidak kebaca komputer , heheh . Oya pak sy mau nanya lagi kok di LJUN saya ada titik kecil Susah untuk di hapus . tepatnnya di paling bawah lembar jawaban . itu mempengaruhi gak pak ? Keccciiilll banget pak titiknya warnanya kecoklat coklatan
        Tolong dijawab ya pak😀

  56. amelia mengatakan:

    Saya mau tanya apakah bermasalah dan menyebabkan siswa tidak lulus akibat siswa salah meletakkan tanggal dan bulan lahir pada LJUN ?? Mohon di jAwab

  57. Anonim mengatakan:

    knp sih stndar kelulusn siswa di ambl dri nilai UN ??? Kalw bgtu ngpain skolh 3 tahun, bkin repot aja

  58. agnes mengatakan:

    knapa msalah ujian nasional 20 atau 30 paket dipersoalkan….prinsipnya asal guru berkualitas pasti anak didiknya jg berkualitas dan itu bisa ditunjukkan dengan siap menghadapi UN…..dalam hal ini bukan hanya anak didik yang diuji tp, juga pendidik…betul tidak?

  59. Anonim mengatakan:

    Sangat sadis UN tahun ini..

  60. Suronto mengatakan:

    Bagai mana saya bisa bahagiakan orang tua saya kalau un di persulit. Mau kerja apa saya untuk bisa membelikan sesuatu buat orang tua. Tidak semua orang ingin kuliah. Setelah lulus sma daftar Tentara. APAKAH ANDA dulu WAKTU SEKOLAH juga orang yang jujur? ? ? Hidup cuma sekali aja di persulit benah,i dulu AGAMA ALLAH SWT AJA tidak kasih coban lebih berat dari batas kemampuan.

    • ibnufajar75 mengatakan:

      Ujian Nasional bukan untuk mempersulit siswa seperti yang anda katakan, karena perlu diketahui bahwa sebenarnya UN bukan satu2nya penentu kelulusan karena yg menentukan adalah nilai akhir (gabungan nilai UN dan nilai sekolah), dan kalau anda tanya apakah saya jujur waktu sekolah saya menjawab YA…

  61. Diki sahrul mengatakan:

    Sekalian aja soal paket nya 50 apa 100 biar semua siswa tidak lulus

  62. Anonim mengatakan:

    kalau saya sih ini cara untuk menurunkan tingkat kecuragan.tapi harus di ingat siswa siswi juga semakin cerdas untuk melakukan hal-hal dengan tidak jujur.

  63. HILMI mengatakan:

    Saya terimakasih atas soal ujian sekrang yang pakek barkod. karen DENGAN ITU SAYA BISA LEBIH MENINGKATKAN BELAJAR DAN MEMPERBAIKI DIRI

  64. irvan mengatakan:

    saya mau tanya jika soal tidak lengkap tapi tetap di kerjakan bagaimana

    • irvan mengatakan:

      kalo naskah soal rusak tapi tetap di kerjakan apakah tidak bisa di baca kompter.mksih .mohon di blas

  65. Dimas mengatakan:

    Mau tanya,misal ada soal yg belum terjawab,kira” membuat fatal atau tidak? bagaimana dengan jawaban yang lain?

Terima Kasih Atas Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: