Polling Saya Tentang Dampak Sertifikasi Guru Terhadap Kemajuan Pendidikan

guru sertifikasiSertifikasi guru sudah berlangsung mulai tahun 2006. Namun hingga sekarang dampak dari adanya sertifikasi guru terhadap perkembangan dan kemajuan dunia tidaklah signifikan. Begitu juga terhadap tingkat kesejahteraan guru bersangkutan. Hal ini dikarenakan hasil sertifikasi tidak dimanfaatkan guru untuk mengembangkan kompetensinya seperti melanjutkan studi ataupun untuk membelanjakan keperluan pembelajaran sebagai sarana penunjang peningkatan pembelajaran namun digunakan untuk keperluan konsumtif dan notabene untuk membeli barang-barang yang selama ini tidak terjangkau dibeli.

Adapun hasil polling saya mengenai pelaksanaan sertifikasi yang saya lakukan di blog ini pertanyaannya adalah : “Dengan adanya sertifikasi Guru sejak tahun 2006, menurut anda apakah memberikan dampak yang positif terhadap dunia pendidikan di Indonesia”. Dan option jawaban yang saya siapkan ada 3 yaitu : a. Berdampak positif terhadap kesejahteraan guru dan perbaikan mutu pendidikan, b. Berdampak positif terhadap kesejahteraan guru saja, c. Tidak ada dampak positifnya.

Baca pos ini lebih lanjut

Kurikulum 2013 Akankah Pendidikan di Indonesia Menjadi Lebih Baik

Kurikulum 2013Di saat pemerintah melakukan uji publik Kurikulum 2013, saya melalui blog ini juga melakukan polling terhadap pengunjung blog ini tentang pendapat mereka apakah dengan kurikulum 2013 ini akan menjadikan pendidikan di Indonesia bisa menjadi lebih baik. Dalam polling ini saya memberikan tiga alternatif pilihan jawaban yang menjadi pilihan para voter yaitu yakin, ragu-ragu, dan tidak yakin.

Dari hasil polling tersebut saya peroleh 41 voter dengan rincian sebagai berikut : 5 voter atau 12 % menyatakan yakin, 9 voter atau 22 % menyatakan ragu-ragu, dan 27 voter atau 66 % menyatakan tidak yakin. Memang hasil polling ini bukan merupakan cerminan dari seluruh masyarakat, namun paling tidak ini dapat menjadi perhatian pemerintah bahwa perbaikan sistem pendidikan nasional ini membutuhkan perhatian yang optimal tidak saja dari sisi kurikulumnya akan tetapi perlu perbaikan pada semua pendukung pendidikan baik pendidik (guru) maupun sarana dan prasarananya.

Berikut ini adalah statistik voter yang diberikan pembaca

Baca pos ini lebih lanjut

Wow… 666 instruktur kurikulum baru Direkrut Kemendikbud

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan merekrut 666 instruktur nasional untuk menjadi pelatih kurikulum 2013 kepada guru-guru inti yang selanjutnya akan menularkan ilmunya kepada guru kelas.

Kepala Badan Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kemendikbud Syawal Gultom di Jakarta, Kamis, mengatakan, instruktur nasional diambil dari kalangan dosen, widyaiswara, dan guru teladan yang memiliki catatan prestasi tingkat nasional.

Ia mengatakan para guru inti itu diambil dari masing-masing kabupaten dan kota dilatih di provinsi. Sekitar 40 ribu guru inti akan menerima pelatihan tersebut, sedangkan total guru kelas yang akan dilatih sekitar 700 ribu orang. “Jadi satu kelas yang terdiri dari 40 guru kelas atau guru mata pelajaran, dilatih tiga guru inti,” katanya.

Baca pos ini lebih lanjut

Dana Alokasi Khusus (DAK) Bidang Pendidikan Tahun Anggaran 2013

DAK pendidikan 2013Dana Alokasi Khusus (DAK) Bidang Pendidikan tahun anggaran 2013 diperuntukkan bagi SMA dan SMK dalam rangka menunjang program Pendidikan Menengah Universal yang bermutu dan merata serta mencapai Standar Nasional Pendidikan.

Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun 2013 merupakan tahun pertama dialokasikannya dana pembangunan Pendidikan Menengah yang disalurkan langsung ke Rekening Kas Umum Daerah (kabupaten/kota) melalui pemindahbukuan dari Rekening Kas Pemerintah. Alokasi DAK Bidang Pendidikan Menengah Tahun Anggaran 2013 untuk SMA dan SMK sebesar Rp. 4.016.520.000.000 (empat triliun enam belas milyar lima ratus dua puluh juta rupiah).

Kabupaten/Kota yang berhak menerima DAK bidang pendidikan Tahun anggaran 2013 untuk alokasi SMA sebanyak 441 Kabupaten/Kota dan alokasi SMK sebanyak 434 Kabupaten/Kota. Penentuan Kabupaten/Kota dan besarnya alokasi dana ditentukan atas dasar kriteria umum, kriteria khusus, dan kriteria teknis yang ditentukan oleh Kementerian Keuangan berdasarkan PP Nomor 55 tahun 2005. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) berkewajiban memberikan data teknis yaitu jumlah sekolah yang rusak, kebutuhan perpustakaan, kebutuhan laboratorium, kebutuhan peralatan laboratorium, kebutuhan buku teks pelajaran dan kebutuhan buku referensi di setiap Kabupaten/Kota yang akan menjadi penerima DAK untuk dijadikan kriteria teknis oleh Kementerian Keuangan.

Baca pos ini lebih lanjut

Putusan MK Tentang Sekolah RSBI

demo RSBIPolemik mengenai Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) akan segera diputuskan oleh Mahkamah Konstitusi (MK) pada 8 Januari mendatang.

Anggota Monitoring Pelayan Publik Indonesia Corruption Watch (ICW), Siti Juliantari Rachman, mengatakan bahwa kasus RSBI ini sempat lama tak ada kabarnya sejak pembacaan kesimpulan dari proses sidang pada Juni lalu. Ia juga mengaku bersama dengan rekan yang lain sudah berkali-kali mendatangi MK, tetapi putusan tak kunjung keluar sejak diajukan oleh ICW, Koalisi Pendidikan, dan Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Desember 2011.

“Akhirnya, putusannya akan segera dibacakan pada tanggal 8 Januari nanti pada pukul dua siang. Semoga hasilnya baik,” kata Tari, saat dihubungi, Sabtu (29/12/2012).

Baca pos ini lebih lanjut

Apakah Perlu Teknologi Canggih Dalam Kegiatan Belajar Mengajar ?

teknologiDi dunia pendidikan retorika mengenai pentingnya teknologi (teknologi pendidikan) dalam Kegiatan Belajar / Mengajar (KBM) muncul hampir setiap hari (Disebut retorika karena biasanya tidak ada bukti yang ditunjukkan).

Mengapa begitu? Karena pendidikan termasuk industri yang paling besar di dunia. Jadi untuk manufakturer atau distributor produk atau jasa teknologi, pendidikan adalah pasaran yang sangat menarik.

Seharusnya ini tidak sebagai masalah kalau produk-produk dievaluasikan dan diuji coba di dunia pendidikan oleh Ilmuwan/ti Teknologi Pendidikan sebelum retorikanya masuk ke sekolah-sekolah, kampus, atau lembaga pendidikan. Tetapi sering ada tokoh pendidikan yang ingin supaya beliau kelihatan “modern” mengulangkan retorika dari manufakturer atau distributor, tanpa evaluasi (applicative atau situational) dari Ilmuwan/ti Teknologi Pendidikan.

Baca pos ini lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: